saham halal atau haram

Bingung Saham Halal atau Haram? Simak Indikator Keharaman Menurut MUI!

Bagaimana cara mengetahui saham halal atau haram? Indikator apa sajakah yang bisa digunakan oleh seorang calon investor muslim sebagai dasar akurat untuk menentukan hukumnya? Ada baiknya ikuti terus ulasan menarik dan penting di bawah ini dengan seksama! Karena disini telah dihadirkan indikator keharaman sebuah transaksi berdasarkan arahan MUI, yakni:

1. Transaksi Bersifat Palsu

Pertama, yang dapat dijadikan sebuah dasar untuk menentukan apakah kegiatan investasi saham halal atau haram adalah keaslian transaksi yang dilakukan. Karena, ternyata belakangan banyak ditemukan kasus transaksi bersifat fiktif alias palsu. Transaksi seperti ini hanya akan menguntungkan  bagi sekelompok oknum saja, sedangkan pihak yang lain akan mendapatkan kerugian sehingga diharamkan.

2. Tanpa Barang atau Jasa Tertentu

Pada dasarnya investasi dapat diartikan sebagai kegiatan menanamkan modal untuk keperluan perusahaan baik di bidang barang maupun jasa. Tanpa adanya dua hal ini maka bisa dikatakan investasi abal-abal atau bodong yang meresahkan. Semisal pada contoh kasus skema member get member yang sangat merugikan bagi para anggota yang terlibat di dalamnya.

3. Perdagangan atas Barang yang Belum Dimiliki

Penginvestasian dana transaksi juga seyogyanya tidak dilakukan pada lembaga pengelola dana saham yang memperdagangkan barang yang belum jelas dimiliki. Sesuai dengan yang diterangkan oleh Majelis Ulama Indonesia transaksi semacam ini tidak dibenarkan oleh syariah. Lantaran ada kemungkinan mengecewakan bahkan cenderung membuat kerugian pada pihak lain dalam penerapan kegiatan usaha perdagangan.

4. Riba

Secara sederhana konsep riba dapat dipahami sebagai penggandaan uang dengan jumlah tertentu dengan perhitungan yang tidak dibenarkan oleh syariah. Misalkan pada penerapan bunga usaha dari dana yang disetorkan oleh nasabah tanpa ada kejelasan. Berbeda dengan bagi hasil usaha menggunakan modal yang disetor oleh pengguna, yang  masih diperbolehkan oleh hukum syariah.

Baca Juga  Ini 7 Bank KPR Termurah, Jangan Sampai Salah Pilih!

5. Ihtikar

Kegiatan investasi saham dikatakan ihtikar apabila pengelolaan dana dari nasabah yang terkumpul dilakukan sebagai upaya penimbunan barang yang dibutuhkan orang banyak. Semisal seseorang menginvestasikan saham pada perusahaan dagang yang secara terang-terangan melakukan penimbunan. Hal ini jelas merugikan dan dihukumi haram sesuai dengan ketentuan agama.

6. Risywah

Risywah tidak hanya diharamkan pada transaksi saham, melainkan pada banyak bidang kehidupan yang lain. Tindakan ini dapat diartikan sebagai upaya untuk menyuap seseorang atau golongan dalam mendapat untung yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Misal apabila dana yang terkumpul dari nasabah dipakai untuk memuluskan proyek abal-abal yang tidak dibenarkan.

7.Ghisysy

Tidak jarang, ketika seseorang melakukan kegiatan jual beli, menyembunyikan kecacatan dari produk yang diserahkan pada konsumen. Tentunya hal ini sangat berpotensi menimbulkan kerugian bagi pihak lain, dan dikenal dengan istilah Ghisysy. Karenanya sebuah kegiatan usaha termasuk investasi saham yang ditengarai ada unsur Ghisysy di dalamnya, dapat disebut haram sesuai syariah.

8. Taghrir, Gharar, dan Tadlis

Terakhir, namun tidak boleh terlewat sebagai indikator penentu haramnya sebuah investasi saham adalah taghrir, gharar, dan tadlis. Taghrir dapat diartikan sebagai tindakan membohongi pihak lain, dan gharar adalah tindakan yang bersifat spekulatif dan merugikan. Sedangkan yang ketiga, tadlis adalah penipuan yang memungkinkan orang lain meyakini janji yang menyesatkan dalam investasi saham.

Nah, apabila transaksi saham yang dilakukan pada sebuah layanan semisal aplikasi trading atau perusahaan langsung tidak memenuhi delapan unsur tersebut. Maka, dapat dikatakan bahwa  kegiatan tersebut berhukum boleh atau bisa juga halal. Bagaimana, masih bingung saham halal atau haram? Jawabannya bergantung pada bentuk kegiatan pengelolaan dana dari para nasabahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *